Nawa Tataraning Cetana dalam Filsafat Uttamopadesa
Bebuka.
Dalam filsafat Uttamopadesa, kehidupan manusia dipahami sebagai perjalanan perkembangan kesadaran. Manusia tidak hanya tumbuh secara jasmani, tetapi juga mengalami perubahan dalam cara berpikir, merasakan, memahami, dan bertindak. Pengalaman hidup, pembelajaran, serta laku penyucian diri menjadi bagian dari proses tersebut.
Kesadaran tidak selalu berada dalam keadaan yang sama. Ada saat ketika manusia masih dikuasai keinginan, ketakutan, kemarahan, dan pamrih. Namun, melalui mawas diri dan pengendalian cipta, rasa, serta karsa, kesadaran dapat berkembang menuju keadaan yang semakin jernih dan selaras.
Karena itu, Uttamopadesa mengenalkan Nawa Tataraning Cetana, yaitu sembilan tataran perkembangan kesadaran manusia. Nawa berarti sembilan, tataran berarti tingkatan atau lapisan perkembangan, sedangkan cetana berarti kesadaran.
Kesembilan tataran ini bukan ukuran untuk menentukan siapa yang lebih tinggi atau lebih rendah. Nawa Tataraning Cetana merupakan cermin bagi manusia untuk mengenali keadaan batinnya sendiri dan memahami arah perkembangan hidupnya.
1. Cetana Kaiket — Kesadaran yang Masih Terikat.
Cetana Kaiket merupakan tahap awal perkembangan kesadaran manusia. Pada keadaan ini, batin masih banyak dipengaruhi dorongan pribadi, keinginan duniawi, rasa takut, kemarahan, iri hati, dan pamrih.
Manusia cenderung mengukur kebahagiaan berdasarkan apa yang dimiliki, apa yang dicapai, serta bagaimana dirinya dinilai oleh orang lain. Pikiran mudah berubah mengikuti keadaan luar, sementara perasaan mudah terseret oleh kesenangan maupun kekecewaan.
Namun, keadaan ini bukan sesuatu yang harus dicela. Ia merupakan titik awal perjalanan. Dari kesadaran yang masih terikat, manusia mulai mengenali bahwa dirinya belum sepenuhnya mampu mengendalikan cipta, rasa, dan karsa.
Kesadaran tersebut menjadi awal tumbuhnya kebutuhan untuk mawas diri dan melakukan perubahan.
2. Cetana Waspada — Kesadaran yang Mulai Terbangun.
Pada Cetana Waspada, manusia mulai menyadari gerak batinnya sendiri. Ia mulai memperhatikan pikiran, perasaan, keinginan, serta tindakan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Manusia tidak lagi selalu mengikuti dorongan pertama yang muncul. Ketika kemarahan datang, ia mulai mampu menahannya. Ketika keinginan muncul, ia mulai mempertimbangkan akibatnya. Ketika melakukan kesalahan, ia tidak hanya mencari alasan, tetapi mulai belajar dari kesalahan tersebut.
Waspada menjadi dasar pengendalian diri. Manusia mulai memahami bahwa perubahan kehidupan tidak hanya ditentukan oleh keadaan di luar dirinya, tetapi juga oleh cara dirinya menanggapi keadaan tersebut.
3. Cetana Wening — Kesadaran yang Mulai Jernih.
Cetana Wening menunjukkan perkembangan ketika batin mulai memperoleh kejernihan. Pikiran tidak mudah dipenuhi prasangka, sedangkan rasa tidak mudah terguncang oleh perubahan keadaan.
Manusia mulai belajar melihat sesuatu secara lebih tenang dan tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Ia mampu membedakan antara kenyataan dan penilaian pribadinya.
Mawas diri mulai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ketenteraman tidak lagi sepenuhnya dicari dari keadaan luar, tetapi mulai tumbuh dari kemampuan menjaga kejernihan batin.
Pada tahap ini, manusia mulai mengalami bahwa pikiran yang jernih membuat keputusan menjadi lebih baik dan hubungan dengan sesama menjadi lebih sehat.
4. Cetana Mantep — Kesadaran yang Kokoh.
Pada Cetana Mantep, kesadaran telah memiliki dasar yang lebih kuat. Manusia tidak mudah kehilangan keseimbangan ketika menghadapi perubahan kehidupan.
Kesenangan tidak membuatnya terlena, sedangkan kesulitan tidak mudah membuatnya runtuh. Ia belajar menerima keadaan tanpa kehilangan arah hidup.
Kemantapan bukan berarti tidak pernah mengalami kesedihan, kemarahan, atau kegelisahan. Kemantapan berarti mampu menyadari semua itu tanpa membiarkan gejolak tersebut menguasai seluruh dirinya.
Hubungannya dengan Sang Sumber Panguripan semakin menjadi dasar dalam menjalani kehidupan. Dari sini, kesadaran mulai bergerak dari sekadar pengendalian diri menuju pemahaman yang lebih mendalam.
5. Cetana Kawawas — Kesadaran yang Mulai Memahami Kasunyatan.
Cetana Kawawas merupakan tahap ketika manusia mulai memahami kehidupan secara lebih mendalam. Pengetahuan tidak lagi hanya dikumpulkan, tetapi mulai dihayati dan diterapkan dalam kehidupan.
Pada tahap ini mulai tumbuh pemahaman mengenai hubungan antara Kawruh Sejati dan Kawruh Kasunyatan. Manusia belajar membedakan antara pengetahuan yang benar-benar menuntun kepada kejernihan dengan pemikiran yang masih dipengaruhi kepentingan dan pamrih.
Budi berkembang menjadi semakin bijaksana. Semakin luas pemahamannya, semakin tumbuh pula kerendahan hati. Ia menyadari bahwa mengetahui banyak hal belum tentu berarti memahami kehidupan secara mendalam.
6. Cetana Pangrasa — Kesadaran Rasa yang Berkembang.
Cetana Pangrasa merupakan perkembangan kehalusan rasa. Rasa tidak lagi semata-mata menjadi tempat munculnya emosi pribadi, tetapi berkembang menjadi kemampuan untuk memahami kehidupan secara lebih dalam.
Dari perkembangan rasa tumbuh welas asih, tepa salira, kepedulian, dan penghargaan terhadap kehidupan.
Manusia mulai memahami bahwa dirinya bukan keberadaan yang berdiri sendiri. Kehidupannya berhubungan dengan keluarga, masyarakat, alam, dan seluruh kehidupan.
Karena itu, perkembangan kesadaran tidak hanya terlihat dari semakin tenangnya batin, tetapi juga dari semakin baiknya hubungan seseorang dengan sesama. Kesadaran yang berkembang selalu melahirkan perubahan dalam perilaku.
7. Cetana Pepadhang — Kesadaran yang Memperoleh Cahaya Kebenaran.
Pada Cetana Pepadhang, kesadaran mulai berfungsi sebagai penerang dalam kehidupan. Cipta, rasa, dan budi semakin mampu digunakan untuk melihat keadaan secara jernih.
Manusia tidak lagi mudah mempertentangkan suka dan duka. Keduanya dipahami sebagai bagian dari perjalanan kehidupan. Pengalaman yang menyenangkan maupun menyakitkan dapat menjadi bahan untuk memperdalam pemahaman.
Kebijaksanaan mulai muncul secara alami dalam cara berpikir dan bertindak. Setiap langkah diarahkan oleh kebenaran, kasih, serta rasa manembah kepada Sang Sumber Panguripan.
Pepadhang bukan berarti manusia telah mengetahui segala sesuatu. Pepadhang berarti kesadaran telah memiliki cahaya yang cukup untuk membedakan arah yang selaras dengan kehidupan dan arah yang menjauh dari kejernihan diri.
8. Cetana Resik — Kesadaran yang Bersih dari Pamrih.
Cetana Resik menggambarkan kesadaran yang semakin mengalami pemurnian. Pamrih pribadi, iri hati, kesombongan, serta dorongan untuk selalu mengutamakan diri sendiri semakin berkurang.
Cipta, rasa, dan budi mulai berjalan dalam keselarasan. Tindakan tidak lagi semata-mata dilakukan untuk memperoleh keuntungan pribadi atau pengakuan dari orang lain.
Ketulusan menjadi semakin kuat. Manusia melakukan kebaikan bukan karena ingin dipuji, tetapi karena memahami bahwa kebaikan memang selaras dengan kehidupan.
Pada tahap ini, kesucian batin tidak hanya menjadi keadaan yang dirasakan dalam diri, tetapi terlihat nyata melalui perilaku. Kesadaran yang resik menghasilkan tindakan yang semakin bermanfaat bagi kehidupan.
9. Cetana Manunggal — Kesadaran yang Selaras dengan Sang Sumber Panguripan.
Cetana Manunggal merupakan puncak perkembangan dalam Nawa Tataraning Cetana. Pada tahap ini, tidak terdapat lagi pertentangan yang kuat antara pemahaman, rasa, dan tindakan.
Cipta, rasa, dan budi telah mengalami keselarasan yang mendalam. Manusia menjalani kehidupan dengan ketenteraman, ketulusan, kasih, dan kesadaran yang selaras dengan Sang Sumber Panguripan.
Manunggal bukan berarti manusia kehilangan dirinya atau menjadi sesuatu yang lain. Manunggal menunjukkan keadaan ketika kehidupan pribadi tidak lagi berjalan melawan nilai-nilai luhur yang menjadi dasar kehidupan.
Apa yang dipahami, dirasakan, dan dilakukan semakin berada dalam satu arah.
Dari puncak perkembangan kesadaran inilah lahir Nawa Prabodha, yaitu terbukanya kesadaran menuju terang batin dan keselarasan kehidupan.
Makna Nawa Tataraning Cetana bagi Kehidupan.
Nawa Tataraning Cetana bukanlah tangga untuk menilai orang lain. Setiap manusia memiliki perjalanan yang berbeda. Bahkan dalam diri seseorang sendiri, perkembangan kesadaran dapat mengalami pasang surut.
Karena itu, kesembilan tataran tersebut lebih tepat digunakan sebagai cermin mawas diri.
Manusia dapat bertanya kepada dirinya sendiri:
• Apakah pikiranku semakin jernih?
• Apakah rasaku semakin halus?
• Apakah aku semakin mampu mengendalikan diri?
• Apakah tindakanku semakin bermanfaat?
• Apakah aku semakin bebas dari pamrih?
• Apakah hidupku semakin selaras dengan nilai kehidupan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut lebih penting daripada mencari pengakuan bahwa diri telah mencapai tataran tertentu.
Perjalanan kesadaran pada akhirnya bukan tentang gelar, kedudukan, atau keistimewaan batin. Perjalanan tersebut terlihat dari perubahan nyata dalam kehidupan. Semakin berkembang kesadaran seseorang, semakin baik kemampuannya mengendalikan diri, memahami sesama, menerima kehidupan, dan bertindak dengan bijaksana.
Dengan demikian, Nawa Tataraning Cetana merupakan gambaran perjalanan manusia dari kesadaran yang masih terikat menuju kesadaran yang semakin wening, mantep, kawawas, pangrasa, pepadhang, resik, hingga manunggal.
Perjalanan itu bukan perjalanan untuk menjadi manusia yang sempurna dalam pandangan orang lain, melainkan perjalanan untuk semakin mengenali, membersihkan, dan menyelaraskan diri.
Penutup.
Kesadaran manusia berkembang melalui perjalanan. Ia tumbuh dari pengalaman, pengenalan diri, pembelajaran, dan laku yang terus-menerus.
Cetana Kaiket menunjukkan awal ketika manusia masih banyak dikuasai dorongan pribadi. Cetana Waspada membuka kesadaran untuk melihat diri. Cetana Wening menghadirkan kejernihan. Cetana Mantep membangun kemantapan. Cetana Kawawas memperdalam pemahaman. Cetana Pangrasa menghaluskan rasa. Cetana Pepadhang menerangi kehidupan. Cetana Resik memurnikan batin dari pamrih. Dan Cetana Manunggal menunjukkan keselarasan mendalam dengan Sang Sumber Panguripan.
Kesembilan tataran tersebut pada akhirnya mengingatkan bahwa perkembangan kesadaran harus terlihat dalam kehidupan nyata.
Kesadaran yang semakin terang seharusnya melahirkan kehidupan yang semakin jernih, tindakan yang semakin baik, dan hubungan yang semakin selaras dengan seluruh kehidupan.
FAQ - perjalanan kesadaran manusia.
Apa itu Nawa Tataraning Cetana?
Nawa Tataraning Cetana adalah konsep dalam filsafat Uttamopadesa yang menggambarkan sembilan tataran perkembangan kesadaran manusia, dari kesadaran yang masih terikat hingga kesadaran yang semakin selaras dengan Sang Sumber Panguripan.
Apa tujuan mempelajari Nawa Tataraning Cetana?
Tujuannya bukan untuk menentukan tingkatan seseorang, melainkan sebagai cermin untuk melakukan mawas diri dan memahami perkembangan cipta, rasa, dan budi dalam kehidupan.
Apakah sembilan tataran ini harus dicapai secara berurutan?
Nawa Tataraning Cetana menggambarkan arah perkembangan kesadaran. Dalam kehidupan nyata, perkembangan seseorang tidak selalu berjalan lurus. Kesadaran dapat mengalami kemajuan, kemunduran, atau kembali menghadapi keadaan yang sama untuk dipelajari.
Apa hubungan Nawa Tataraning Cetana dengan Nawa Prabodha?
Nawa Tataraning Cetana menggambarkan perkembangan kesadaran, sedangkan Nawa Prabodha menggambarkan terbukanya atau kebangkitan kesadaran menuju terang batin. Keduanya memiliki hubungan yang erat dalam perjalanan kesadaran Uttamopadesa.
Apakah Cetana Manunggal berarti manusia menjadi Tuhan?
Tidak. Cetana Manunggal tidak dimaksudkan sebagai perubahan manusia menjadi Tuhan. Istilah tersebut menunjuk pada keselarasan mendalam antara cipta, rasa, budi, tindakan, dan nilai kehidupan yang bersumber dari Sang Sumber Panguripan.
Apakah Nawa Tataraning Cetana berkaitan dengan kekuatan gaib?
Tidak. Konsep ini menekankan perkembangan kesadaran, kejernihan batin, pengendalian diri, pemahaman kehidupan, dan perubahan perilaku. Perjalanan kesadaran bukan pencarian kekuatan gaib atau keistimewaan tertentu.
Bagaimana cara menerapkan Nawa Tataraning Cetana?
Penerapannya dapat dimulai dari mawas diri: mengamati pikiran, mengenali perasaan, mengendalikan dorongan, memperbaiki tindakan, mengurangi pamrih, mengembangkan welas asih, dan berusaha menjalani kehidupan secara selaras.
Apakah Nawa Tataraning Cetana dapat digunakan untuk menilai orang lain?
Tidak. Konsep ini terutama digunakan untuk melihat perkembangan diri sendiri. Kesadaran bukan sesuatu yang layak dijadikan alat untuk menghakimi atau merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Sumber tulisan :

Komentar
Posting Komentar